Waktu itu ada seorang teman ikhwan bertanya "Rin bagaimana ceritanya bisa dekat dengan Rizki?" "Ndak tahu juga Ren, tiba-tiba dekat saja." jawabku dengan senyum malu-malu. "Menurtmu dia ganteng ndak?" "Gantenglah, hehe." ku jawab pertanyaan itu dengan tegas. Terlihat olehku Rendi mengucek matanya beberapa kali, alih-alih mencairkan suasana yang sedikit kaku ku celetukkan "Ndak usah nangislah, kan tadi kamu yang tanya." "Kelilipan ya, hehe." jawab Rendi membela diri. Kamipun tertawa.
Setelah itu Rendi bertanya tentang rencanaku setelah lulus. Aku yang terbawa suasana pun menceritakan semua rencanaku, mulai dari rencana A sampai rencana Z. Rendi hanya berdecak kagum mendengarkan rencanaku itu karena sudah memasukkanmu dalam rencanaku dimasa depan yang menurut sebagian besar orang terlalu muluk-muluk.
Tiba-tiba dia bertanya lagi "Tapi apa menurutmu semuanya bisa berjalan sesuai rencana?" "Emm, ndak ada yang tahu, walaupun kami sama-sama ingin bersama dan saling berjanji untuk menjaga satu sama lain tapi jika orang tuanya ndak setuju, ya bagaimana lagi? kami ndak bisa menolak ataupun memaksa." jawabku dengan nada pasrah yang kemudian ku mekarkan senyum di bibir kecilku.
"Kenapa berpikir begitu?" tanya Rendi yang semakin antusias dengan obrolan itu. "Karena tidak semua orang punya masa lalu yang baik Ren, begitu juga aku. Dan mungkin orang tuanya pun ndak akan menyetujui kami karena masa laluku." lagi-lagi di akhir kalimat ku bubuhkan senyuman.
"Ahh, menurutku ndak gitu Rin, itu kan sudah menjadi masa lalu dan kamu sudah merubahnya, itupun membuahkan hasil yang memuaskan sekarang, mereka akan menghargai proses panjangmu itu, percayalah." jawab Rendi yang bahkan belum tahu apa yang terjadi di masa laluku. "Hehe, mudah-mudahan begitu." jawabku yang masih terdengar ragu-ragu.
"Lalu kalau ada yang melamarmu tiba-tiba?" tanya Rendi yang sedikit mengagetkanku. "Sebelum Rizki?" tanyaku meyakinkan. "Iya" jawab Rendi sambil menganggukkan kepala. "Ya kalau begitu ku kembalikan saja kepada orang tuaku Ren, karena itu juga merupakan sebuah bukti." jawabku singkat. "Bukti apa?" tanya Rendi penasaran. "Bukti bahwa Rizki ndak benar-benar ingin mengajak dan membawaku dalam rencana-rencana besarnya di masa depan." jawabku menjelaskan dan lagi-lagi kububuhi senyuman di akhir kalimat. Rendi mengangguk. Dia pamit pergi dan itupun menjadi akhir percakapan kami siang itu.
Aku masih terduduk di bawah pohon sembari terus memikirkan pertanyaan Rendi. Aku kemudian merasa takut dan gelisah. Dan terbesit dipikiranku, jika saja itu terjadi berarti hanya aku yang benar-benar ingin membawa dan mengajakmu dalam rencana-rencana besarku dimasa depan. Lalu kamu bagaimana?
Kamu tahu? aku berharap besar padamu. Bahkan aku selalu berharap dan berdoa kepada Allah agar aku bisa menyempurnakan separuh agamaku bersamamu.
-Rts22-
Setelah itu Rendi bertanya tentang rencanaku setelah lulus. Aku yang terbawa suasana pun menceritakan semua rencanaku, mulai dari rencana A sampai rencana Z. Rendi hanya berdecak kagum mendengarkan rencanaku itu karena sudah memasukkanmu dalam rencanaku dimasa depan yang menurut sebagian besar orang terlalu muluk-muluk.
Tiba-tiba dia bertanya lagi "Tapi apa menurutmu semuanya bisa berjalan sesuai rencana?" "Emm, ndak ada yang tahu, walaupun kami sama-sama ingin bersama dan saling berjanji untuk menjaga satu sama lain tapi jika orang tuanya ndak setuju, ya bagaimana lagi? kami ndak bisa menolak ataupun memaksa." jawabku dengan nada pasrah yang kemudian ku mekarkan senyum di bibir kecilku.
"Kenapa berpikir begitu?" tanya Rendi yang semakin antusias dengan obrolan itu. "Karena tidak semua orang punya masa lalu yang baik Ren, begitu juga aku. Dan mungkin orang tuanya pun ndak akan menyetujui kami karena masa laluku." lagi-lagi di akhir kalimat ku bubuhkan senyuman.
"Ahh, menurutku ndak gitu Rin, itu kan sudah menjadi masa lalu dan kamu sudah merubahnya, itupun membuahkan hasil yang memuaskan sekarang, mereka akan menghargai proses panjangmu itu, percayalah." jawab Rendi yang bahkan belum tahu apa yang terjadi di masa laluku. "Hehe, mudah-mudahan begitu." jawabku yang masih terdengar ragu-ragu.
"Lalu kalau ada yang melamarmu tiba-tiba?" tanya Rendi yang sedikit mengagetkanku. "Sebelum Rizki?" tanyaku meyakinkan. "Iya" jawab Rendi sambil menganggukkan kepala. "Ya kalau begitu ku kembalikan saja kepada orang tuaku Ren, karena itu juga merupakan sebuah bukti." jawabku singkat. "Bukti apa?" tanya Rendi penasaran. "Bukti bahwa Rizki ndak benar-benar ingin mengajak dan membawaku dalam rencana-rencana besarnya di masa depan." jawabku menjelaskan dan lagi-lagi kububuhi senyuman di akhir kalimat. Rendi mengangguk. Dia pamit pergi dan itupun menjadi akhir percakapan kami siang itu.
Aku masih terduduk di bawah pohon sembari terus memikirkan pertanyaan Rendi. Aku kemudian merasa takut dan gelisah. Dan terbesit dipikiranku, jika saja itu terjadi berarti hanya aku yang benar-benar ingin membawa dan mengajakmu dalam rencana-rencana besarku dimasa depan. Lalu kamu bagaimana?
Kamu tahu? aku berharap besar padamu. Bahkan aku selalu berharap dan berdoa kepada Allah agar aku bisa menyempurnakan separuh agamaku bersamamu.
-Rts22-
Komentar
Posting Komentar